Studium Generale ke-12 Perkembangan Peradaban Islam bagi Program Doktor, Magister, dan Profesi; “Rekonstruksi Sejarah Peradaban Islam”

Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu, 26 Juni 2021 pada Semester Genap TA 2020/2021 kembali menyelenggarkan Studium Generale ke-12 bagi Program Doktor, Magister, dan Pascasarjana dengan topik Perkembangan Peradaban Islam. Pada kesempatan tersebut berkenan hadir sebagai Pembuka Acara Rektor UII Prof. Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D., dan berkenan sebagai Nara Sumber adalah Prof. Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, Jakarta.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Fathul Wahid menyerukan umat Islam perlu merekonstruksi sejarah Peradaban Islam masa lampau yang memberikan tempat terhormat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Menurut Prof. Fathul Wahid, proses rekonstruksi berbeda dengan proses reproduksi yang bersifat mekanistik dan menyalin masa lalu apa adanya.

Jika sekadar melakukan reproduksi, menurut dia, justru akan menjadikan umat Muslim tidak beranjak dari tempatnya karena selalu hidup di bawah bayang-bayang masa lalu sehingga sulit berkembang.

Yang dibutuhkan saat ini adalah melakukan rekonstruksi sejarah lampau. Rekonstruksi adalah proses intelektual, ada elemen lama di sana, tetapi dilengkapi dengan eleman kontekstual sesuai kebutuhan masanya,” kata Prof. Fathul Wahid saat membuka kuliah umum daring bertajuk “Perkembangan Peradaban Islam” untuk mahasiswa Program Profesi, Magister, dan Doktor dipantau di Yogyakarta, Sabtu (26/6) seperti dikutip Antara.

Menurut Prof. Fathul Wahid, umat Muslim tidak sekadar harus mampu menjadi pemilik peradaban yang dikembangkan, namun di sisi lain juga harus bersedia menjadi tamu dari peradaban dan pemikiran dari tempat yang lain.

Bagaimana nilai-nilai universal Islam kita gaungkan, kita lantangkan, dan membuka diri dari pemikiran tempat atau kalangan lain,” kata Prof. Fathul Wahid.

Hal tersebut, menurut Prof. Fathul Wahid, dapat kembali merujuk pada masa Harun Ar-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang amat memberikan penghargaan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Pada saat itu, kata Prof. Fathul Wahid, siapa pun ilmuwan baik muslim maupun tidak yang membantu mengembangkan ilmu pengetahuan diberi penghargaan emas seberat buku yang ditulis atau diterjemahkan.

Ini indikasi bahwa Islam menghargai ilmu, dan ilmu pengetahuan,” ujar Prof. Fathul Wahid.

Pada abad ketiga sampai kelima setelah Islam hadir, dikatakan Prof. Fathul Wahid, banyak muslim kelas menengah yang mempunyai sumber daya dan minat tinggi dalam mempelajari ilmu pengetahuan.

Pada saat itu, sebagaimana dicatat oleh sejarah, daulah memberikan tempat yang terhormat untuk ilmu pengetahuan Yunani. Penyebaran ilmu pengetahuan menjadi luas karena dorongan dan sambutan kelas menengah muslim. Situasi spiritual pada tiga abad pertama Islam, menurut dia, amat kondusif untuk masuknya ide dan sistem pemikiran Yunani.

Jika kita sepakat, bahwa saat ini, Muslim cenderung tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan atau peradaban, mungkin kita bisa melakukan refleksi terhadap cerita tersebut,” kata Prof. Fathul Wahid.

 Sebagai Narasumber Prof. Komarudin Hidayat menyatakan, Indonesia merupakan negara yang baru didesain kedepan. Sebagai negara, Indonesia masih muda sekali, belum ada seabad usianya. Kalau dibandingkan China yang usianya sudah ribuan tahuan dengan satu visi. Sehingga tidak perlu membangun toleransi, tepa slira, ewuh pakewuh. Akibatnya di Indonesia banyak sekali energi yang digunakan untuk membangun hal-hal  tersebut, Sehingga takut menghadapi masa depan dan lebih berpikir yang kecil-kecilkehilangan kepercayaan diri, cenderung anti saintis bahkan anti beda kelompok. Dengan demikian kondisi sains menjadi tertinggal. Bahkan seperti saat ini ketika bicara vaksinpun dunia Islam tidak ada yang membuat vaksin.  Padahal induk ilmu tersebut diberikan Ibn. Sienna atau yang diBarat dikenal sebagai Avicenna, ujar Mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut. Karena itu menurutnya di Indonesia tidak  kemudian tidak sedikit Umat Islam melihat Covid dengan pendekatan lebih theologis. Kalimat sakit atau mati itu takdir, jangan takut covid karena itu musyrik menjadi terdengar. Kesan bahwa umat Islam menjadi tidak scientific terasa. Padahal virus ini jelas ada, empiris scientific.

Studium General ke-12 yang dimoderatori oleh Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Sh.Ec. Dosen dan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ilmu Agama Islam UII tersebut dihadiri oleh 412 Peserta dan berakhir pada pukul 11.30 diharapkan mampu untuk memberikan gambaran, tambahan pengetahuan, dan pembekalan kepada mahasiswa Program Doktor, Magister, dan Profesi UII.

Sumber:

  1. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210627020923-20-659843/rektor-uii-serukan-rekonstruksi-sejarah-peradaban-islam
  2. Harian Kedaulatan Rakyat, 26 Juni 2021
© Copyright - Directorate of Academic Services - Islamic University of Indonesia