Kewirausahaan Merupakan Bagian dari Live Learning Skill

Kamis, 20 Februari 2020. Universitas Islam Indonesia (UII) terus berupaya mendorong mahasiswanya untuk  terlibat dalam kegiatan entrepreneurship melalui Divisi  Pengembangan Kewirausahaan/Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama (IBISMA), bahkan dalam perkembangannya, saat ini UII telah mendapat grant hibah dengan Erasmus dan Growing Indonesia : a Triangular Approach (GITA) dari Uni Eropa  untuk mengembangkan kegiatan entrepreneurship.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset ketika membuka Workshop Penyamaan Persepsi dan Pemahaman Mengenai Silabus dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS)  Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU)-Bidang Kewirausahaan Syariah, Bahasa, Kewarganegaraan, dan Pancasila pada Kurikulum Ulil Albab Kamis, 20 Februari 2020 di Ruang Sidang Lantai II Gedung Kuliah Umum Prof. dr. Sardjito, MPH.

Pada workshop ini berkenan hadir sebagai pembicara adalah: Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Sh.Ec., Kepala Divisi Perkuliahan Terpadu Direktorat Layanan Akademik (DLA), Dr. Ir. Arif Wismadi, M.Sc. Direktur Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh, Bagus Panuntun, SE., MBA., Dosen Kewirausahaan Syariah Program Studi Manajemen FBE, Karimatul Ummah, SH., M.Hum., staff pengajar Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum UII. Agung Nugroho Adi, S.T., M.T., Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum & Pembelajaran, Direktorat Pengembangan Akademik (DPA)

Menurut Dr. Ir. Arif Wismadi, M.Sc. Direktur Pembinaan & Pengembangan Kewirausahaan/Simpul Tumbuh, acara ini digelar untuk mengungkap tingkat capaian kompetensi kewirausahaan syariah yang diberikan kepada mahasiswa. Dalam MK Kewirausahaan Syariah terdapat 15 Kompetensi khusus yang menonjolkan nilai dan karakter experience dalam kewirausahaan. Bahkan menurut Bagus Panuntun, SE., MBA., Dosen Kewirausahaan Syariah Program Studi Manajemen FBE, perlu dimunculkan konsep MK Kewirausahaan Syariah sedikit agak keluar dari konteks Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang sudah dibuat yaitu dengan menambahkan 1 SKS menjadi 3 SKS yang semula hanya 2 SKS dengan memberikan muatan learning motivation, experience motivation, dan output based serta bagaimana melakukan kolaborasi dengan mahasiswa antar prodi.

Lebih jauh Bagus Panuntun menyatakan bahwa Kewirausahaan merupakan bagian dari live learning skill. Fokus dari kewirusahaan adalah out based yang penting adalah bisnis itu sendiri meskipun nantinya mau diarahkan ke PKM atau lainnya silahkan saja. Disamping mahasiswa diajari Bisnis plan,  tetapi yang paling penting adalah visibility, sehingga bisnisnya tidak mengawang-awang, mahasiswa juga harus diajak untuk mempelajari feed back untuk merubah atau merevisi suatu produk. Saat ini UII sudah memiliki unit bisnis and experience challenge untuk mendampingi proses bisnis mahasiwa.

Terkait dengan MK Pancasila dan Kewarganegaraan, Karimatul Ummah, SH., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, beliau menyatakan bahwa Dasar hukum muatan MK Pancasila dan Kewarganegaraan adalah (1) Pasal 35 ayat 3 Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi Kurikulum Pendidikan Tinggi pada Ayat 1 wajib memuat mata kuliah: Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Pancasila. (2) Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi; dan (3) Peraturan Universitas Tentang Kurikulum Ulil Albab.

MKWU  merupakan MK Wajib di UII bisa dikembangkan di UII dengan memasukan Visi dan Misi serta muatan ke-Islaman dan ke-UII-an dan dirancang untuk pembelajaran dengan metode Student Centered Learning (SCL).  Hal ini ditegaskan juga oleh Agung Nugroho Adi, S.T., M.T., Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum & Pembelajaran, Direktorat Pengembangan Akademik (DPA)  bahwa saat ini masih ada beberapa prodi yang sampai saat ini masih menggabung muatan materi MK Pancasila dan Kewarganegaraan, padahal seharusnya menurut dasar hukum diatas dipisah dan masing-masing diberikan bobot 2 SKS.

Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Sh.Ec., Kepala Divisi Perkuliahan Terpadu Direktorat Layanan Akademik (DLA) menyampaikan materi Mengikhtiarkan Standarisasi Silabi, RPS, dan Konten Pembelajaran MKWU-Bidang BAHASA Kurikulum Ulil Albab menyatakan bahwa, langkah mengembangkan bahan kajian MKWU Bidang Bahasa salah satunya adalah dengan SCL Approach, tidak hanya dengan konsep learning by doing saja tetapi juga dengan thinking, reflecting, dan interacting. Dalam MK Bhs. Indonesia diperlukan speed reading serta dasar-dasar public speaking dikarenakan minat baca mahasiswa masih rendah. Sedangkan pada MK Bhs. Inggris sampai saat ini belum mengemukakan tentang uji kompetensi dalam silabinya. Dalam penyusunan silabi diupayakan ada kata khas bidang ilmu supaya mudah untuk dielaborasi.

Terkait dengan konsep kampus merdeka, Agung Nugroho Adi, S.T., M.T., Kepala Divisi Pengembangan Kurikulum & Pembelajaran, Direktorat Pengembangan Akademik (DPA) menyampaikan bahwa mahasiswa diperbolehkan mengambil MK di luar prodi, hal memungkinkan beberapa MKWU untuk menjadi MK multiprodi dan harapannya bisa dimulai dari level fakultas yang memiliki beberapa prodi. Menurut Agung Nugroho Adi, MK yang memungkinkan untuk dijadikan MK multi prodi, dalam menyusun materi dapat berdasarkan penugasan, tidak harus memberikan ujian tertulis, karena mengukur kemampuan mahasiswa tidak harus melalui ujian tertulis. Peran Dosen dalam SCL adalah memberikan assesment/penilaian dengan rubrik yang bersifat kualitatif. Aktifitas pembelajaran bisa macam-macam, diantaranya: merangkum, mencatat, identifikasi, membuat gambar, imaginasi, test mandiri, dan lain-lain. Ujian harus disesuaikan dengan CPMK tetapi tidak wajib dan bisa digantikan dengan penugasan. (DenPoer)