Kajian Islam
Ngalap Berkah dari Penggunaan AI dalam Proses Pembelajaran
“Teknologi dapat mempermudah jalan mencari ilmu. Namun, keberkahan ilmu tetap bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.”
Beberapa tahun terakhir, Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai aplikasi sejenis telah menjadi teman belajar baru bagi mahasiswa. Mencari referensi, memahami materi kuliah, membuat rangkuman, hingga menyusun ide tulisan kini dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Di satu sisi, AI adalah nikmat yang patut disyukuri. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah AI membuat kita semakin semangat belajar, atau justru semakin bergantung?
Sebagai seorang muslim, kita tidak hanya diajarkan memanfaatkan teknologi, tetapi juga diajarkan bagaimana teknologi menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah SWT dan menghadirkan keberkahan dalam ilmu.
AI sebagai Wasilah, Bukan Tujuan
Dalam Islam, segala sesuatu pada dasarnya adalah wasilah (sarana), bukan tujuan. Begitu pula dengan AI. Kehadirannya bukan untuk menggantikan proses menuntut ilmu, melainkan membantu manusia memperoleh ilmu dengan lebih efektif.
Salah satu tujuan utama syariat Islam (maqāṣid syariah) adalah ḥifẓ al-‘aql, yaitu menjaga dan mengembangkan akal manusia. Akal merupakan anugerah Allah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Karena itu, segala teknologi yang membantu manusia berpikir, belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga akal, selama digunakan pada jalan yang benar.
Allah SWT berfirman,
“…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini mengingatkan bahwa yang dimuliakan bukanlah teknologinya, melainkan manusia yang menggunakan ilmunya untuk kebaikan.
Saatnya Bermuhasabah
Kemudahan sering kali membuat seseorang terlena. Karena itu, sebelum membuka aplikasi AI, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri.
- Apakah saya menggunakan AI untuk belajar atau hanya agar tugas cepat selesai?
- Apakah saya memahami jawaban yang diberikan AI atau sekadar menyalinnya?
- Apakah kemampuan berpikir saya semakin berkembang atau justru semakin bergantung pada teknologi?
- Jika suatu hari AI tidak dapat diakses, apakah saya masih mampu menyelesaikan tugas sendiri?
Muhasabah seperti ini penting agar AI tetap menjadi alat bantu, bukan menjadi tempat bergantung sepenuhnya. Islam mengajarkan bahwa ilmu diperoleh melalui ikhtiar, kesabaran, dan proses belajar yang terus-menerus.
Etika Digital Seorang Muslim
Dunia digital tidak lepas dari nilai-nilai Islam. Apa yang dilakukan di ruang digital tetap akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Karena itu, ketika menggunakan AI, seorang muslim perlu memegang beberapa prinsip.
Pertama, amanah. Gunakan AI untuk hal-hal yang baik dan sesuai aturan. Jangan menjadikannya sebagai sarana melakukan kecurangan akademik.
Kedua, jujur. Jangan mengaku hasil pekerjaan AI sebagai karya pribadi apabila aturan akademik mengharuskan adanya pengungkapan penggunaan AI. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barang siapa menipu maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)
Ketiga, bertanggung jawab. Jawaban AI tidak selalu benar. Oleh karena itu, setiap informasi perlu diperiksa kembali sebelum digunakan atau disebarluaskan.
Allah SWT berfirman,
“…Jika datang kepada kalian seorang membawa berita, maka telitilah (tabayyun)…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Prinsip tabayyun ini sangat relevan di era AI. Jangan mudah percaya hanya karena jawaban AI terdengar meyakinkan.
Menghargai Karya Orang Lain
Kemampuan AI menghasilkan tulisan dalam hitungan detik juga menghadirkan tantangan baru, yaitu menjaga kejujuran akademik.
Islam sangat menghargai hak orang lain, termasuk hak atas karya intelektual. Mengambil tulisan tanpa menyebutkan sumber, menyalin hasil AI tanpa pengolahan, atau melakukan plagiarisme bukanlah sikap yang mencerminkan akhlak seorang penuntut ilmu.
Mahasiswa hendaknya menggunakan AI secara transparan sesuai kebijakan kampus. Jadikan AI sebagai asisten untuk membantu memahami materi, bukan sebagai “penulis bayangan” yang mengerjakan seluruh tugas.
Menjaga Keseimbangan (Tawazun)
AI memang canggih. Namun, jangan sampai kecanggihan teknologi membuat kita meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik yang selama ini menjadi tradisi dalam menuntut ilmu.
Tetaplah meluangkan waktu untuk membaca buku, membuka Al-Qur’an dan kitab-kitab para ulama, berdiskusi dengan dosen dan teman, mengikuti kajian, serta melatih kemampuan berpikir secara mandiri.
Teknologi tidak boleh menggantikan budaya membaca.
AI tidak boleh menggantikan proses berpikir.
Dan AI tidak akan pernah menggantikan keberkahan yang lahir dari adab kepada guru.
Inilah makna tawazun, yaitu memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan Islam.
Penutup
Artificial Intelligence adalah salah satu anugerah teknologi yang dapat membantu manusia berkembang. Namun, keberkahan ilmu tidak lahir dari kecanggihan teknologi semata. Keberkahan lahir dari niat yang benar, usaha yang sungguh-sungguh, kejujuran, adab, serta tanggung jawab dalam menggunakan ilmu.
Mari menjadikan AI sebagai wasilah untuk memperluas wawasan, memperdalam pemahaman, dan meningkatkan kualitas diri. Gunakan AI dengan bijak, tetap berpikir kritis, menghargai karya orang lain, serta menjaga keseimbangan antara teknologi dan tradisi menuntut ilmu.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sering kita menggunakan AI yang akan dinilai oleh Allah SWT, melainkan bagaimana kita memanfaatkan nikmat tersebut untuk mencari ilmu yang benar, bermanfaat, dan penuh keberkahan.
Penulis: Azhar
Badan Penjaminan Mutu Universitas Islam Indonesia



