Rezeki

Sebuah perumpamaan mencari rezeki seekor burung asal dia mau berusaha, keluar dari sarangnya maka. Ia tidak akan lapar. Perhatikanlah seekor burung bangau yang mencari ikan di air, bagaimana ia mengamati ikan dalam air kemudian bagaimana ia kemudian menangkapnya. Itulah asal mau berusaha mencari rezeki, insha Allah akan mendapatkannya.

Lihatlah pula bagaimana seekor cicak, yang tidak bisa terbang memperoleh makanannya. Sedangkan makanannya adalah bintang bersayap. Seekor nyamuk. Bagaimana ia bisa mendapatkan makanannya? Itu semua adalah karena karunia dari Allah swt.

Q.S. As Saba: 36.

قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Ini adalah sebuah ayat, orang yang beriman tentu mengetahui bahwa Allah swt lah yang melapangkan rezeki. Sedangkan orang yang tidak beriman tentu tidak mengetahuinya, bahwa Allah lah adalah pemberi rezeki.

Q.S. As Saba: 39

قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥ ۚ وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

 

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

Guru kita, Prof. Zaini Dahlan sering mengingatkan tentang hal tersebut, yaitu tentang rezeki yang baik. Rezeki yang barokah, dalam hal ini adalah harta benda yang kita peroleh dari bekerja. Di Universitas Islam Indonesia, semua yang ada adalah wakaf, jadi Insha Allah hasil dari kerja di UII adalah halalan thoyiban.

Rezeki yang baik tentu akan melahirkan amalan yang baik pula, seperti zakat, infak shadaqah dan lain-lain. Seperti sebuah karambol, maka amalnya akan menghasilkan kebaikan-kebaikan lain. Rejeki yang baik adalah cukup, bukan banyak. Lihatlah bagaimana orang-orang yang rezekinya banyak tetapi anak-anaknya berantakan. Rezeki memang tidak semata-mata harta benda saja, anak-anak yang shaleh juga termasuk rezeki.

(Disarikan dari Pengajian Senin Pagi Karyawan Rektorat UII 15 Januari 2018. Narasumber:  Ustadz H Nandang Sutrisno, S.H., LLM., M.Hum., P.hD. – Rektor UII)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *